Lu dapet ilham

don't forget to smile 😊

Blindspot Tester, Part 1: Tester si Pembawa Berita “Buruk”

Isight ini ku dapet dari hasil diskusi bareng mentor ku (mb Alifia) setelah belio ngisi meetup ISQA chapter Jogja.

ppt by mb Alifia

Judul slide: “Apa yg orang lain & kita ( sebagai tester) ngga sadar, apa yg sebenernya kita lakuin.”

Salah satu poin yg bikin aku tertarik ada di membangun relasi antar member, gak cuman dalam satu team aja, tapi cross divisi.

Poin itu langsung munculin pertanyaan: “Lah harusnyakan tugas semua team member? Bukan cuma tester aja yg perlu ngelakuin itu? Kenapa sampai dimention? hmmm 🤔”

Well, ternyata bagi tester ngebangun relasi tu cukup challenging, karna by nature cara kita berkontribus aja udah agak beda, disaat tim member lain bergerak ke arah menyelesaikan fitur, kita seolah bergerak ke arah sebaliknya dan bisa terkesan “menghambat”.

Concern ku, kalau para tester sampe ngga aware dan nggak bisa mengkomunikasikan maksud dengan baik, jatuhnya kita bisa disalah pahami dan akan dianggap sebagai friction dalam proses development. Bisa jadi muncul pemikiran “Apalagi sih ini si tester, banyak banget feedback-nya, jd ngga kelar-kelar nih fitur”.

Itu kejadian sama aku sebelum ngeh dengan blindspot ini, komunikasi berasa berat, apalagi kalau via chat (beuh makin PR lagi itu):

  • mikirin apa aja yg mau ditulis,
  • terus sebelum klik “send” perlu mikir lagi, apa ada kalimat yg menyinggung (terutama saat bug report),
  • khawatir context ngga tersampaikan dengan jelas.

Solusi

So far ini yg ku pahami bisa jadi solusi biar ngga gitu jadi beban pikiran,

Bisa nggak salah paham:

  • Kasih disclaimer di awal untuk acknowledge kekurangan, misal “mau tanya nih, tp masih bingung nentuin kalimat yg pas, maap kalo nyingung, “
  • Bisa pake AI, biasanya aku tulis dulu apa yg mau aku sampaikan, terus ngeprompt “tweak this text, with professional but not-formal tone”, biar nggak kaku-kaku banget.

Biar nggak dianggap friction:

  • Mencoba memahami sweet spot tiap tim, sampaikan topik yg relate dengan timnya. Ajak tiap anggota tim “merasakan” pov dari user. Misal saat report bug, daripada nulis “titlenya salah”, bisa dibuat “title belum tepat dana bisa mengakitbatkan user kebingungan”.

Closing

Yang jelas, kita tetep harus sampaikan segala issue dan pertanyaan yg kita punya, sampaikan dng sopan dan kurangi mikir terlalu berat terkait text yg mau disampaikan. In the end, response tim lain itu ada diluar kendali kita dan kita hanya bisa fokus ke apa yg bisa kita kontrol, apa yg kita sampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *